![]() |
| Google.com |
Pasangan
yang rutin berhubungan seks diyakini mampu menunda menopause.
Peneliti
Inggris yang melacak kehidupan seks dan status menopause dari hampir 3.000
perempuan Amerika selama satu dekade menemukan bahwa mereka yang jarang berhubungan seks lebih mungkin mulai menopause pada usia yang lebih dini.
Tubuh
perempuan mungkin bereaksi terhadap pengurangan aktivitas seksual atas dasar
"gunakan atau hilangkan", kata tim peneliti berteori.
"Temuan
penelitian kami menunjukkan bahwa jika seorang perempuan tidak berhubungan seks, dan tidak ada kemungkinan hamil, maka tubuh 'memilih' untuk tidak
berinvestasi dalam ovulasi, karena itu tidak ada gunanya," kata penulis
pertama studi Megan Arnot.
Menstruasi
adalah bagian penting dari siklus hormon bulanan wanita. Seorang wanita
kehilangan sekitar 70 mm darah selama setiap periode. Seluruh siklus
berlangsung sekitar 28 hari.
"Mungkin
ada pertukaran energi biologis antara menginvestasikan energi untuk ovulasi dan
berinvestasi di tempat lain, seperti tetap aktif dengan menjaga cucu,"
kata Arnot. Dia adalah kandidat PhD dalam antropologi di University College
London.
Seorang ahli
AS mengatakan itu menyoroti kemungkinan tambahan lain untuk kesehatan seksual
yang baik bagi perempuan.
"Dokter
telah lama mengetahui bahwa ada banyak manfaat dari aktivitas seksual yang
berkelanjutan," kata Dr Jennifer Wu, seorang dokter kandungan / ginekolog
di Lenox Hill Hospital di New York City.
Dia
menunjukkan bahwa menopause lebih lama dapat berarti tulang lebih kuat dan
kadar kolesterol lebih baik.
Wu juga
menunjukkan bahwa, menurut penelitian tersebut, "aktivitas seksual yang
terkait dengan menopause di kemudian hari juga mencakup seks oral, cumbuan, dan
masturbasi," dan dia menambahkan bahwa "bahkan perempuan tanpa
pasangan dapat memperoleh manfaat dari menopause yang lebih akhir."
Sementara
itu, Dr Mitchell Kramer yang merupakan ketua kebidanan dan ginekologi di Rumah
Sakit Huntington Northwell Health di Huntington, New York dan membaca
penelitian itu punya pandangan tersendiri.
Dia
mencatat, penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa perempuan yang menikah
cenderung memasuki menopause lebih lambat daripada perempuan lajang. Salah satu
teori yang menjelaskan tren tersebut adalah bahwa wanita yang sudah menikah
mungkin lebih sering berhubungan seks.
"Semua
perempuan pada akhirnya akan mengalami penghentian menstruasi dan menopause,
tetapi peningkatan frekuensi aktivitas seksual dalam beberapa hal mempengaruhi
sistem reproduksi untuk menunda perubahan menopause," kata Kramer.
Meski
begitu, Kramer percaya bahwa wanita individu tidak boleh terlalu mementingkan
temuan ini.
"Signifikansi
dan pentingnya temuan ini terutama untuk kepentingan ilmiah—pentingnya temuan
ini dari perspektif kesehatan patut dipertanyakan," katanya.
Sumber: ayobandung.com

Komentar
Posting Komentar